Makna

Ketika lampu lalu lintas menyala merah hampir semua kendaraan dari arah yang melihatnya, yang menghadap lampu merah tersebut diwajibkan berhenti (kecuali yang belok kiri langsung) tak peduli kita berada di jalur lambat atau jalur cepat, jika kita tetap mengebut kita bisa dikatakan gila. Namun tidak diwajibkan berhenti saat kita melihat rok mimi merah dipinggir jalan melambai-lambai, jika kita berhenti hanya karena rok mini merah dan ngerem mendadak kita pun bisa dikatakan gila.

Merah hanya sebuah nama warna, nama merah tidak lahir sendiri, ia lahir dari kesepakatan demikian juga dengan makna lampu yang menyala merah. Sama halnya dengan kata-kata, kata bahagia disepakati bermakna sesuatu yang nyaman, enak, tanpa gangguan dan lain-lain, sementara kata sengsara telah disepakati bermakna kebalikan dari kata bahagia , misalnya. Dan jika kita mencoba keluar dari kesepakatan yang sudah sekian lama terbentuk di dalam kehidupan bermasyarakat kita akan mengalami serangkaian benturan atau tabrakan layaknya kendaraan yang tetap melaju di saat lampu lalu lintas menyala merah atau berhenti mendadak di saat lampu menyala hijau. Dan disebut gila.

Ketika saya menulis status "sengsara itu sederhana, pagi-pagi ada yang nganterin sekotak martabak dan sebungkus dunhill, ini kiamatku apa kiamatmu?", yang terjadi saya dituduh ngeluh, padahal siapa sih orang yang tidak senang dikasih makanan dan sebungkus rokok (dlm hal ini perokok), saya hanya mencoba gila dengan menabrak kesepakatan makna kata 'bahagia' saya ganti dengan kata 'sengsara' kata 'cerita' saya ganti dengan kata 'kiamat'. Itu karena orang-orang memahaminya kata perkata bukan kalimat perkalimat. Makna sedemikian erat dilekatkan pada kata hingga seolah-olah kata-kata terlahir membawa maknanya masing-masing.
-------------------------------
Galuh Timur

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia