Cuaca sedang cerah, sejak jam enam pagi hampir tak ada mendung yang melintas, sebuah hari yang tepat untuk menggelar pertunjukan jemuran sebelum berangkat kerja "cucian show" dan mencoba mengikhlaskanya jika tiba-tiba kran hujan dibuka dan tak se
pat terangkat. Menebak cuaca di musim hujan memang sulit, bisa saja matahari sangat terik namun lima menit kemudian langit gelap. Sampai jam dua matahari masih terik setengah jam kemudian langit gelap, sepuluh menit kemudian byur...kran hujan terbuka lebar dan cucian tak terselamatkan, kiamat 12-12-12 benar-benar terjadi di jemuran halaman belakang ruko tempat tinggalku. Ini kiamatku, apa kiamatmu?
Kiamat memang bermacam-macam bentuknya tergantung dari mana kita memandangnya, bagi yang bekerja, berjuang bagi dunia pendidikan sampai orang tua siswa maraknya kasus pornografi di buku bacaan ataupun di LKS siswa SD merupakan pertanda kiamat atau malah sudah kiamat, sebab pertanyaan mengapa buku bacaan yang berisi hal-hal yang berkaitan dengan pornografi bisa beredar begitu mudah seolah tak ada yang berniat menjawabnya. Bagi petani singkong kiamat sudah semakin nyata dengan rajinya pemerintah mengimpor singkong dan petani lain tinggal menunggu giliran. Bagi pecinta sepak bola Indonesia, merupakan kiamat besar jika FIFA menjatuhkan sanksinya pada gerombolan preman berlabel PSSI dan pidato presiden di hari anti korupsi beberapa jam yang lalu merupakan tanda kiamat yang paling nyata bagi pemegang misi anti korupsi, pemberantas korupsi dan pemerintahnya sendiri. Dan saat semua departemen sibuk dengan kiamatnya masing-masing, rakyatpun ikut sibuk dengan kiamatnya masing-masing, kiamat yang disebabkan kiamatnya pemerintah.
Jika kiamatku di halaman belakang yang menimpa "cucian show" tak selesai hanya dengan doa mungkinkah kiamat besar yang menimpa halaman depan selebar Indonesia bisa selesai dengan dibiarkan?.
-------------------------------
Kadipaten
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia