Akhir-akhir ini banyak calon pemimpin daerah yang mengikuti (meniru, sepertinya lebih tepat) gaya blusukanya Jokowi, meski blusukan bagi Jokowi bukanlah gaya apalagi hanya sekedar "nggaya" tapi memang cara kerjanya seperti itu dan tulus. Blusukan menjadi menarik dan asik disaksikan ketika satu orang melakukanya diliput dan masuk tivi. sama halnya dengan acara musik pagi, ketika satu tivi swasta menayangkan terasa sekali asiknya dan bedanya, namun ketika nyaris semua tivi swasta menayangkan acara yang sama dalam waktu yang sama, artis yang itu-itu juga mendadak semua terasa basi apalagi setelah tahu bahwa itu hanya lipsing, masyarakat merasa tertipu dan berbalik membenci acara semacam itu. Tapi ada juga yang ikhlas dan tetap bergembira menonton lipsing artis India dengan tiket seharga motor bebek yang gesit dan irit. Blusukan juga seperti itu, satu orang melakukanya menjadi unik dan menarik. Dan ketika semua ikut blusukan, blusukan menjadi sesuatu yang menjijikan dan akhirnya masyarakatpun menilai itu hanya lipsing, lipsingnya politisi, ujungnya jadi olokan rakyat yang sudah terlanjur susah percaya dan susah diperdaya.
Blusukan sudah menjadi trend saat ini, tak masalah jika blusukan dilakukan para calon pemimpin atau yang sudah jadi pemimpin daerah, sedikit atau banyak pastilah ada dampak positif yang disebabkanya, baik bagi rakyatnya, wilayahnya ataupun pemimpinya secara pribadi. Namun blusukan akan menjadi masalah besar jika dilakukan semua pemimpin agama yang ada di Indonesia ini apabila blusukanya bukan lagi ke tempat ibadahnya melainkan ke dalam kuburan umatnya masing-masing hanya sekedar menanyakan apakah fasilitas di dalam kubur sudah sesuai dengan apa yang dijanjikan tuhan melalui kitab sucinya masing-masing apa tidak, apakah kuburanya kurang lebar, atau sering kebanjiran. Berapa banyak kuburan yang akan dibongkar untuk memuluskan acara blusukan pemimpin agama ini? mulai dari mengurus izin penggalian kuburan sampai sesi tanya jawab dengan warga di komplek pekuburan tersebut, pastilah lebih banyak makan biaya dan peluang korupsi makin tinggi. Belum lagi masalah di luar kuburan, selesai sesi tanya jawab dengan warga kuburan masing-masing pemimpin agama kemungkinanya akan semakin membanggakan bahwa agamanyalah yang paling benar, paling enak, terbukti fasilitas dalam kuburnya begini atau begitu, bukan sesuatu yang mustahil bagi negara se-surealis seperti Indonesia ini, hal itu sangatlah mudah. Bisa dibayangkan, tidak blusukan ke kuburan dan tidak tahu dalamnya kuburan juga saling mengkafirkan, kerusuhan antar agama sering terjadi apalagi setelah adanya blusukan ke kuburan.
-------------------------
Kadipaten
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia