Dengan tersipu akupun masuk dan duduk manis, tak berapa lama bokongku terasa panas duduk di sofa, kue berlapis keju kesukaanku serasa batu, senyum ramah dan tawa renyahnya menghapus sekian banyak hal negatif yang hinggap di pikiranku dan aku jatuh sejak ia berkata 'Masuklah, santai saja ini bukan Jakarta'. Maaf motor sportmu menyilaukanku bu Ely, dalam hati. Kubiarkan diri hanyut dalam aliran ceritanya yang heroik, menukik sesekali menggelitik membuatku tersenyum padahal sepuluh menit yang lalu aku seoalah akan melihat hantu ketika menolak untuk memasuki rumah besar bercat magnolia dengan pagar besi tempa warna merah tembaga.
Ah..kupikir ia angkuh seperti terali garasi ternyata ia selembut karpet di ruang tamu, hangat dengan warna coklat membuatku lupa ia seorang birokrat.
---------------
Kadipaten
--Djenar Abunetti--
sitidjenar@gmail.com
Sent using a Sony Ericsson mobile phone