Saya punya satu jam atau enam puluh menit setiap hari kerja dari jam dua belas sampai jam satu siang yang bisa digunakan untuk istirahat, sholat, makan atau lainya dan sangat umum disingkat ishoma namun saya bukanlah muslim yang taat jadi saya tak sholat dan islam saya hanya sebatas di KTP dan data soal agama tersebut mungkin itu juga hanya salah satu syarat sahnya terbit kartu tanda penduduk, padahal siapa yang peduli agamamu. Sampai saat ini saya belum mendengar orang membuat kartu tanda penduduk tanpa mencantumkan agamanya seolah data tersebut begitu penting apakah dengan mencantumkanya lalu semua urusan jadi mudah? Tidak juga, coba tengok petugas kelurahan atau kecamatan yang mengurus KTP tersebut apakah yang agamanya sama denganmu lalu tak berbelit-belit? Apakah mereka tak mengumbar alasan yang tak perlu? Sama saja bukan. Agamaku dicantumkan di KTP dan hanya melahirkan sinetron "olok-olok" Islam KTP.
------------------------------------
Majalengka
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia