Menikmati malam jumat di depan base camp atau barak dengan ubi rebus, teh dan hembusan angin malam yang semakin lama semakin dingin meski tak sampai menusuk tulang, obrolan demi obrolan berlalu begitu saja dari topik satu ke topik lainya yang tak pernah selesai dan memang seharusnya begitu, tak selesai. Jika semuanya selesai menjadi tak menarik lagi untuk dibicarakan seperti halnya di tivi-tivi, dari para ahli, tokoh-tokoh dan entah apalagi dari wacana satu ke wacana yang lain dari kasus A sampai Z hanya asik dibicarakan bukan diselesaikan dengan tindakan nyata atau kongkret, lalu apa bedanya saya, calo di terminal dan dengan mereka yang bicara di tivi? Nyaris tidak ada selain kondisi keuanganya dan satu lagi mereka memang mencari uang dengan banyak bicara jadi semakin mahir kamu bicara semakin banyak uang yang datang maka negeri ini lebih dikendalikan oleh mulut-mulut uang "uang yang bicara".
Bicara uang memang takan pernah selesai maka dari sekian banyak berita yang beredar di media itu berasal dari uang dan akan kembali ke uang. Menarik bukan? Uang memang punya daya tarik yang besar, uang bisa membeli apa saja ia juga bisa membeli dirimu sendiri dengan kata lain uang mampu membuat orang menjual diri mungkin sayapun termasuk menjual diri. Pernah dengar ungkapan ini? "Tuhan bersabda, setan berbisik tapi uang bicara" (Greenpeace). Dan berita terbaru dari dunia perburuhan kemarin juga soal uang, apakah pemerintah akan mengabulkan tuntutan para buruh tersebut? Belum tentu sebab ada uang besar yang dipertaruhkan dan lagi-lagi demo semacam ini hanya akan berhenti di meja redaksi tivi lalu dibicarakan untuk menemani kita yang sedang minum teh atau minum kopi malam hari semacam dongeng yang diulang-ulang ketika masa kecilmu dulu menjelang tidur, bedanya kamu sekarang tidur lebih malam sudah doyan kopi dan dongeng yang berbeda, itu saja. Membosankan bukan?
--------------------------------------------
Majalengka
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia