Catatan Perjalanan Pulang

Hari masih gelap dan adzan shubuh baru saja berlalu dari telinga ketika kakiku menginjak tanah kelahiranku tanah yang selama ini kurindukan dalam dua bulan terakhir, tak lama memang. Kedatanganku disambut senyum pak RT yang berprofesi asli tukang ojek sesekali membandari ilegal logging menemani puluhan warganya yang telah sukses lebih dulu menggunduli hutan jati yang ada di wilayah Galuh Timur, ironis memang. ''Kamu dari mana'' tanya pak RT mengawali perbincangan di atas motor yang mulai melaju membelah dinginya udara musim kemarau, ''Dari Jakarta pak'' jawabku singkat hampir tak terdengar disebabkan angin yang menerpa dari arah yang berlawanan, dua tikungan berlalu jalan semakin terang beberapa mobil bak terbuka mulai beroperasi mengangkut hasil bumi dari desa Galuh Timur dan sekitarnya menuju pasar Talok, tak ada yang berubah selain jalan yang dulu hanya berbatu kini sudah beraspal kendati dengan mutu pengerjaan yang rendah. ''Kamu sudah membuat e-KTP? 'Belum pak' 'Sudah dapat surat panggilan? ''Enggak tahu pak' 'Di rumahku ada surat panggilan buat kamu, tapi kamu kan tinggal di RT dua, setahuku kamu hanya sekitar tiga tahun tinggal di RT satu waktu masih sama mantanmu dan setahuku tidak ada warga lain yang memiliki nama sama denganmu' 'ya bapak harusnya lebih tahu soal ini' 'Kamu sudah kawin lagi? ' aku mulai malas dengan pembicaraan ini, laju motor terasa lambat seolah lajunya motor anak muda yang asik pacaran. Ah mengapa aku harus bertemu tukang ojek ini. 'Hei..kamu ngantuk ya, ditanya diam saja' 'he'eh pak, tadi di bis tak bisa tidur, brisik sama tangis anak kecil' jawabku sekenanya.
------------------------------------------------
Majalengka


--Djenar Abunetti--
sitidjenar@gmail.com
Sent using a Sony Ericsson mobile phone