Membingungkan

Saya sedang mencoba menghabiskan beberapa kata untuk menghabiskan banyak waktu, banyak pulsa dan berbatang-batang rokok. Tapi beberapa kata sulit untuk diingat dan dituliskan dan sepertinya butuh pemanasan untuk mengingatnya dan menuliskanya. Seperti isi kepalamu yang berputar-putar tak jelas setelah mengikuti kalimat pembuka tulisan ini, demikian juga isi kepalaku sedang mencoba berputar lebih kencang agar isi kepalamu juga berputar lebih kencang, artinya kalau kau bingung saya lebih bingung. Dan dari kasus seperti inilah sering muncul status "bingung mau nulis apa".

Membuat orang lain bingung sepertinya pekerjaan yang banyak disukai, pernah mendengar berita pembantaian atas nama agama? Penjarahan? Korupsi kitab suci? Atau Lebih konsumtif di bulan puasa? Membingungkan bukan? Ya sepertinya memang asyik melakukan hal-hal di atas, melakukan dua hal yang berlawanan dalam waktu yang sama dan tentunya hanya bisa dilakukan orang-orang berkemampuan khusus atau malah orang-orang ''berkebutuhan khusus''. Dan yang paling kusukai dan tak kalah membingungkan adalah mengolok-olok apa yang telah terjadi, mengolok-olok apa yang telah mereka lakukan untuk agama atau tuhanya, untuk departmenya, untuk negaranya dan untuk rakyatnya.

Sejauh ini saya masih bingung bagaimana caranya menghabiskan tiga ribu tujuh ratus dua puluh tujuh karakter yang tersisa dari lima ribu karakter yang disediakan, dan sepertinya saya mulai menemukan cara untuk membagi kebingungan yang sejak lima hari terakhir sulit dikonsentrasikan menjadi tulisan yang tetap membingungkan. Nah itu cukup mengasyikan buatku ketimbang berdesak-desakan antri membuat E-KTP tanpa nomor urut dan tumpukan undangan yang tak jelas akibat ulah orang-orang di kecamatan yang lebih mengutamakan keluarga sendiri atau teman dan keadaan makin membingungkan ketika sebagian pengantri protes atas aturan tersebut begitu seterusnya yang terjadi hanyalah protes sesama pengantri, asik ketika melihat mereka adu pintar bermain kata seperti debat pilkada dan bingung dengan aparat yang tak punya ketegasan menegakan aturan "mau tertib dan lancar?, antri".

Jika tata tertib antri saja kita sulit melakukanya kita juga sepertinya akan mengalami kesulitan mematuhi tata tertib berlalu lintas dan selanjutnya mungkin saja kita termasuk orang-orang yang tak "tertib" beragama, berbangsa dan bernegara.
-------------------------
Galuh Timur


--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia