Sore yang cerah dan sepertinya ini waktu yang tepat untuk menikmati kopi hitam, goreng-goreng (mereka menyebutnya Junk Food) dan sebuah novel Narcissus dan Goldmund karya Hermann Hesse di atas terpal (orang Galuh Timur menyebutnya deklit, biasa untuk menjemur padi) yang di gelar di atas rumput, setelah siang tadi baru kudapatkan dari sebuah toko buku yang lokasinya sempat membuatku frustasi, tiga kali balik tidak ketemu akibat lupa nama tokonya (maklum di kota kecil bernama Balaraja aku belum menemukan toko buku ternama).
Setiap sore bundaran depan cluster Harmony, Talaga Bestari ini riuh oleh orang-orang mulai dari anak-anak, remaja dan dewasa terlebih sekarang hari minggu, lebih ramai tentunya. Duduk-duduk di antara orang-orang ini kita bisa berinteraksi, melihat dan mendengar langsung pembicaraan tentang segala hal mulai dari mimpi, humor seks (jangan berfikiran aku akan menggantinya menjadi 'humor dewasa'), politik, falsafah hidup, cinta dan hal-hal lainya. Maka tidak mengherankan jika ada penyair besar yang menyukai tempat semacam 'Planet Senen' sebagai tempat favoritnya karena di sana ada banyak jenis kehidupan nyata yang lebih kompleks dan mereka tidak melihatnya dari tivi, mendengarny dari radio dan membacanya di koran. Mereka lebih tahu bahwa kenyataan tak sekedar hitam dan putih. Bundaran ini hanyalah bagian kecil dari dunia tapi cukup untuk menggambarkan bahwa kenyataan memang begitu runyam.
Talaga Bestari
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments:
Posting Komentar