Bersyukurlah

Ini tempat tinggal gue saat di Majalengka berupa ruko berlantai dua, gue tidur di lantai atas. Tak ada selimut tebal, ranjang, bed cover springbed apalagi super pillow cukup alas tikar kadang papan tripleks, papan gipsum bahkan kardus bekas bungkus AC, kardus bekas bungkus monoblock (closet duduk) pun jadi. Di tempat lain bisa lebih buruk dari ini biasanya berdesak-desakan mirip pengungsi di base camp atau barak tapi kaum gue lebih nyaman menyebutnya bedeng. Tergantung kondisi lapangan (lapangan kerja, lapangan tidur atau lapangan basket nih?) dan keuangan, jika uang memungkinkan gue pilih kost.


Gue menulis tentang semua ini bukan untuk minta dikasihani lalu membuat proposal minta sumbangan (kalau mau nyumbang ya boleh sih itung-itung buat beli laptop yang udah quadcore, ipad atau paling tidak HTC one X, tar gue kasih norek temen deh) hanya ingin berbagi pengalaman (tentu jika kalian sudi, sudi gak?). Nah buat elu yang baca (asumsi gue pengguna internet rata-rata orang yang secara ekonomi lebih mapan, lebih cerdas, lebih terdidik, tidur lebih nyaman, kerja di posisi atau jabatan yang jelas) maka rajin-rajinlah bersyukur kepada yang telah memberi segala nikmat kepadamu. Kalau belum bisa bersyukur baca postingan ini sepuluh kali dengan menahan nafas. Nah lho...


Munjul, Majalengka
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone