Tak Ada Puisi Malam Ini

Puisi-puisi telah mendengkur sejak tadi setelah kelelahan berlari mengejar senja yang tak pernah berhenti meledeknya dengan menyebutnya 'kau makin tua dan lamban'. Puisi-puisi kadang terbangun pada malam hari menepok nyamuk, membetulkan selimut atau duduk sejenak dan minum beberapa teguk mungkin kehausan setelah dalam tidurpun puisi tetap berlari mengejar mimpi, atau dikejar? kadang malah sampai terkencing-kencing, gejala diabetes?

Tak ada puisi malam ini, sebagian puisi sudah terlelap dalam mimpinya yang menggelisahkan sebagian lagi asik menonton televisi, ngopi, ngrumpi dan saling menelanjangi hingga menjelang pagi.

Tak ada puisi malam ini, barangkali memang sudah bukan waktunya berpuisi sebab hari menjelang pagi, sudahi saja basa basi dan kita akhiri kesendirian ini, petualangan ini.

Tak ada puisi malam ini, sebab malam sebentar lagi beku, diam dan bisu segeralah kenakan kaus kaki dan nyalakan tungku api, hangatkan dirimu di sini, di pelukanku, di dada puisi yang tak pernah mati.

Tunggu apalagi? Tak ada puisi malam ini.

*to Muty



Talaga Bestari
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments: