Dulu tuh saya suka banget bikin akun ini itu sampai bingung mau buat apa, sekedar menuntaskan hasrat ingin tahu tentang sesuatu. Dan selesai sampai di situ saja, jadi sampah di internet, membusuk dan jadi pengganggu pencarian di mesin pencari saat kita mencari informasi yang kita butuhkan. Begitulah satu bagian watak hasrat, ingin segera dituntaskan lalu menyisakan sebuah pertanyaan "untuk apa?".
Apa kamu pernah merasakan, dan melakukan hal yang sama? Berbanyak-banyak akun dan minim konten, banyak-banyak "add friend" minim interaksi? Apakah hasrat-hasrat seperti itu akan terus menyita dan menguasai lebih banyak waktu yang kita miliki untuk sesuatu yang lebih baik, berguna untuk diri, keluarga dan orang lain?
Jual beli follower di twitter, di instagram, jual beli akun di LinkedIn, jual beli Fans Page di facebook dan hal-hal yang seperti itu hanyalah perwujudan dari sebuah hasrat, upaya pemenuhan sebuah hasrat asali dari manusia, hasrat ingin diakui, hasrat untuk bahagia.
Pertanyaan konyolnya, apakah kita sudah bahagia dengan akun yang kita punya? Apakah kita di luar komputer? Atau di dalam komputer?
Jika kau mempertanyakan mengapa gambar dan tulisan tak "nyambung" sama sekali di situ hasratmu mulai melakukan perannya.
------------------------
Galuhtimur, Jawa Tengah.
Djenar Abunetti
Sent from my BlackBerry 10 smartphone



0 comments:
Posting Komentar