Bebal

Ternyata agak sulit menentukan ending di catatan yang sudah tidak mood lagi untuk diteruskan, tapi ngomong-ngomong kenapa catatan saya begitu-begitu saja? Tidak ada warna baru dalam catatan saya beberapa bulan ini, semua benar-benar sampah otak yang sangat tidak bermutu dan tak mampu dimamah. Saya sebenarnya ingin bisa menulis puisi, sajak atau apalah yang berbau semacam itu. Tapi kok ya tidak ada ide atau barangkali ilham yang lewat di kepala. Jangan-jangan daya "khayal" saya sudah mati atau memang tak punya barang sedikit saja kemampuan di soal menulis puisi, tapi di sisi lain saya merasa bebas tak perlu berpusing-pusing, nulis ya nulis saja. Mungkin saja ini memang asli gayaku, bukan gayamu apalagi gayanya Muhammad Ali, Daud Jordan, atau Chris Jhon. Karena memang mereka petinju, dan saya blogger iseng. Dan nyata bebal kalau percaya puisi hanya bisa lewat ilham.

Kepengen juga bisa menulis yang kayak di paragraf pembuka novel-novel yang mampu membawa isi kepala "ke alam lain" tapi ide selalu dirasa habis meski sudah habis-habisan memeras otak yang memang keras seperti batu, otak saya memang tidak seencer yang diperkirakan dan layak disebut bebal. Nah, bukannya mikir soal puisi, tahu-tahu di kepala malah teringat kata bebal yang mirip-mirip kata "bêbêl" bahasa jawa koek di tempat saya yang artinya mampet, tersumbat karena banyak kotoran. Bebal biasa disebut bodoh, atau mungkin lebih dari bodoh, tidak bisa mengenali dan menganalisa kasus berikut membuat jalan keluarnya, sedangkan "Bêbêl" berarti tersumbat pada lubang atau pipa menyebabkan air mampet karena tidak bisa menemukan jalan keluar. Bebal jelas tidak berotak encer, dan bebel jelas mampet pet. Persamaannya sama-sama tidak disengaja dan sama-sama susah menemukan jalan keluar, tapi sama-sama bisa diusahakan agar tidak mampet selamanya. Eh otak malah melompat lagi dari bebal, bêbêl ke kata bibel, nah bibel atau kitab suci secara umum sering diklaim sebagai jalan keluar dari semua masalah yang ada di dunia. Makanya orang sering mengatakan "sesuai kitab suci" harus begini dan begitu. Yang tidak percaya bibel (kitab suci) dianggap bebal atau bodoh, atau bêbêl alias "mampet" otaknya. Entahlah.
---------------------------------
Galuh Timur, Jawa Tengah

--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from Nokia Windows Phone

0 comments: