Tentang bulan yang mengambang, tentang dengkur malam, kerik jangkrik dan sahut kodok. Mengapa bulan, mengapa jangkrik, mengapa dengkur, mengapa kodok, sekali-sekali tokek kek atau dengung nyamuk, tapi memang malam menyuguhkanya dengan riang tanpa bimbang di ambang, mewartakanya dengan jelas tanpa perlu tes urine berhari-hari, tes yang sebenarnya secepat menghitung jari, tapi itulah jati diri, jati yang sendiri, jati yang mati, jati yang dihinggapi puluhan ular derik, kerik jangkrik, sahutan kodok menyahuti tokek di tragedi jagorawi, jalan para jagoan.
Bulan masih mengambang, kali ini tampak bimbang, pucat dan sendiri dalam balutan mendung kebiruan, jangan-jangan bulan memang lebam dihantam kepentingan pemuja malam, malam yang kelam, malam yang legam, malam yang tenggelam dalam busana glam, glamour.
Bulan masih mengambang, dan aku ingin puisi, puisi tentang polisi, tentang jagorawi, tentang pak mentri ekonomi, tentang tragedi awal sempak masehi yang baru berganti di bawah terang pijar kembang api, semalam di televisi. Sebelum bulan benar-benar tenggelam.
---------------------
Kadipaten
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia