Jarum jam menunjuk angka tiga sore, aspal masih basah dan semakin hitam setelah diguyur hujan deras satu jam yang lalu namun langit seakan belum puas dan masih menyisakan rinainya ketika ia melangkah di bawah payung pelangi menuju penitipan anak, tak lebih dari sepuluh menit, seperti biasa ia tak bisa berlama-lama menatap seraut wajah tanpa dosa, diciumnya, meletakan botol susu di sampingnya, berpamitan pada pengasuh dan melangkah pergi, sesekali menengok seakan ingin kembali. Apa itu cinta? Ah,...mungkin nanti akan kutanyakan padanya.
Mungkin itu cinta, sesuatu yang membuatnya mampu bertahan dari kerasnya hidup, lebih-lebih di perkotaan, lebih tangguh dari yang kuperkirakan. Ah cinta selalu saja begitu, selalu menyisakan ruang untuk tidak tahu, mengapa begitu, entahlah tapi aku tak yakin sebab aku sendiri tak setangguh itu, tak sesabar itu, tak setegar itu, atau mungkin yang kualami, kurasakan bukan cinta, lalu apa yang membuatku serapuh ini? dendam? sesal? benci? trauma? ah lagi-lagi aku tak yakin dengan pikiranku sendiri. Aku memang jenis mahluk yang tak pernah benar-benar bisa atau mampu meyakini sesuatu, aku hanya punya satu keyakinan bahwa aku tak bisa meyakini sesuatu sepenuhnya, dan sepertinya itu pun kuucapkan dan kusimpan dalam hati dengan keraguan. Mungkin nanti aku mati dalam keraguan, dan sungguh itu sesuatu yang buruk dari seorang pria, yang seharusnya menjalani hidup dengan penuh cinta dan keyakinan bisa menggapai apa yang disebut bahagia. Dan sepertinya aku akan terlambat menyadarinya, juga terlambat untuk memiliki keyakinan dan cinta.
Ia menyapaku tadi pagi, tersenyum dan bertanya 'sampai kapan kau akan tertawa?' seakan tak yakin bahwa aku sanggup menertawakan diri sendiri juga dunia, 'aku akan tertawa selama aku masih bisa tertawa, hidupku, duniaku leluconya', tapi aku tak mengerti mengapa ia menangis karena jawabanku, mungkin ia berpikir aku tak serius menjawabnya. Ia menatapku dalam-dalam, katanya 'sudahlah, sudahi saja dendamu, petualanganmu sebab waktu tak mungkin kembali, akhiri dramamu', dan berlalu.
Aku masih diam, tak mengerti ucapanya, tangisnya dan tatapanya, mungkin nanti, atau besok akan kutanyakan kembali tentang tangis, tatapan juga ucapan tiga hari yang lalu itu di sini di gundukan tanah basah terguyur hujan, sebelum sekaleng susu di tanganku membatu.
-------------------------
Kadipaten
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia