Kenek bus Malas itu bernama Kantuk, ia begitu genit menggodaku yang duduk, membaca sambil ngemil di taman kota, ia merayuku "mau kemana? Kuantar kau sampai kamar...." aku naik dengan masgul.
Kantuk bergelantung seenaknya di kelopak mata seperti kenek lainya, dengan aksen yang khas meneriakan tujuan bis dan rute yang biasa dilewatinya "bantal-bantal, malam, dingin, gelap, sunyi, pagi, terang..." sesekali Kantuk melambai-lambaikan tanganya yang penuh lembar-lembar mimpi, mimpi yang baru, yang lama dan kusut, dan yang licin serta wangi seolah baru keluar dari laundry menyatu di genggamanya, beberapa mimpi tampak sobek di sudutnya dan terlipat. Kantuk terus berteriak "bantal-bantal, malam, dingin, sunyi, gelap, pagi, terang....." "terakhir-terakhir, tak ada bus lagi di belakang......."
"tek-tek-tek....." suara kaca jendela dipukul pelan dengan mimpi koin, mimpi yang lebih sering untuk kerokan, mimpi yang lebih sering menghinggapi jari-jari pengemis, mimpi yang sering ditolak pengamen, mimpi yang diam di laci kasir mini market. Bus melamban dan berhenti, beberapa remaja naik dan duduk di belakangku, diam tak bersuara, wajah mereka tampak kuyu. Jalan begitu lengang, bus kembali melaju pelan dan makin kencang, beberapa penumpang tampak tegang dan berpegangan erat di kursi depanya.
Sangat pelan suara kasak-kusuk di belakangku yang sejak tadi tak bersuara, sepertinya tentang mimpi yang jatuh, lama kubiarkan, semakin lama semakin jelas mereka memperebutkan mimpi yang jatuh.
"crek-crek-crek..." Kantuk menarik ongkos.
kurogoh saku celanaku, astaga...!!! di mana mimpiku yang hanya selembar itu, aku diturunkan paksa dan berjalan kaki tanpa mimpi-mimpi, sementara perjalanan masih sangat jauh.
----------------------------
Kadipaten.
--Djenar Abunetti--
djenar.abunetti@gmail.com
Sent from my Nokia
