Saya lulus MI (Madrasah Ibtidaiyah) atau SD sekitar tahun 89-90-91an (lupa, ijazah ilang pula), tidak melanjutkan lagi ke SMP karena alasan ekonomi maka jadilah saya abege pengangguran dan untuk mengisi waktu saya sekolah sore (sekolah agama, sekolah diniyah sampai kelas tiga, tidak lulus). Beranjak jadi abege tidak mudah, umuran saat itu lagi bengal-bengalnya, suka meledek guru perempuan (pernah ditampar juga hahaha) menukar ataupun mengambil sandal yang lupa dimasukan ke dalam rumah, tapi lebih sering minta ke teman daripada ngambil sendiri. Ya itu jamanya belum kenal yang namanya pacaran, hanya berani ledek-ledekan, jalan-jalan di Galuh Timur belum diaspal, PLN belum masuk hanya ada listrik dari mesin diesel usaha milik perorangan (pribadi). ya kadang nyuri listrik juga untuk 'nyetel' mini compo, kucing-kucingan dengan pemilik diesel, nyuri kelapa muda, nyuri pete, nyuri nangka, belajar merokok, belajar minum minuman beralkohol, berkelahi dengan kelompok remaja lain (Geng, kalau jaman sekarang) yah bengalnya remaja kampung yang jauh dari peradaban.
Masa lalu tertutup aspal dan kilaunya saat gerimis, dibuyarkan terang bola-bola lampu, tergantung di bentangan kabel listrik, dan hitamnya air got.
-----------------------------
Kadipaten
--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@nokiamail.com
Sent from my Nokia