Jangkrik

Jangkrik berkepala botak memegang cermin, menghapus keringat di keningnya dengan ujung baju, mengelus kepala beserta sungutnya yang putus "mengapa anak manusia memburuku, apa salahku" gumamnya sambil melirik foto jangkrik gagah, telanjang dada di meja rias yang sedang tersenyum memperlihatkan gigi geligi yang rapi tanpa behel, seakan ia mengadu pada foto itu dan berharap mendengarnya dan melindunginya dari gangguan anak manusia.

Awal musim penghujan jangkrik-jangkrik dilanda sibuk luar biasa seakan setiap hari adalah hari senin, setelah rumput-rumput bersemi jangkrik-jangkrik seakan berlomba mengumpulkan bahan makanan, memenuhi lumbung-lumbung di bawah tanah, kawin dan beranak pinak, meneruskan perjuangan hidup di dunia jangkrik. semakin hari jangkrik semakin banyak, jangkrik-jangkrik lalu bersosial, berpolitik, berpartai, berserikat, dan ber-ber yang lain, memilih pemimpin jangkrik, mentri jangkrik, wakil jangkrik, polisi jangkrik, hakim jangkrik, gubernur jangkrik, bupati jangkrik dan seterusnya hingga ulama, kiai dan ustadz jangkrik yang mengajarkan tata cara berdoa dan berzikir yang dilagukan. Di tengah malam dengan suaranya yang indah, sesekali melengking, "kriiiiik-kriiiik-kriiiik". Jangkrik-jangkrik berzikir bersama dan percaya, semakin indah dan keras berdoa semakin dicintai sang pencipta.

Merdu doa jangkrik di gelap malam merambati udara menyelusup ke kampung-kampung, samar cahaya lampu teplok yang lolos dari celah-celah bilik bergerak, pelan-pelan mendekat dan semakin dekat jangkrik-jangkrik makin khusyu berzikir dan cahaya makin membesar, mendekat.

"kriiiik-krik-krik....
"krik-kriiii-kriiiik...
Sunyi.


"krusaaak-krusaaak" suara rumput terinjak pelan, cahaya makin membesar mendekati sumber suara jangkrik.

"Ini dia kak lobangnyaaa, cepat gali kaaak"...teriak anak manusia.

Jleb, ujung pacul memutus sungut.
-------------------------------------
Kadipaten


--Djenar Abunetti--
djenarabunetti@yahoo.com
Sent from my Nokia