Ngompol

Ngompol itu masalah biasa apabila terjadi pada anak usia tertentu, siapa yang tidak pernah ngompol? dan itu bukan hal mudah bagi saya untuk mengingat kapan terakhir kali ngompol di kasur. Ngompol mungkin bisa disebut kencing yang tak terkontrol umumnya terjadi saat kita tidur dan hanya dialami anak-anak, tentu masalahnya akan berbeda jika dilakukan atau dialami orang dewasa. Saat saya duduk di bangku kelas satu sekolah dasar masalah ngompol masih dialami teman sebaya yang masih tetangga dan masalah ngompol menjadi serius sebab usia seperti itu sudah bukan waktunya ngompol di kasur dan bangun seolah tak ada masalah apapun di kasur, di kamar, di rumah dan ruang yang lebih besar yaitu dusun. Yang membuat teman saya tampak lebih mengenaskan bukan pada bau ompol di kamarnya namun pada saat sang teman menjadi bahan olok-olok, bahan ledekan "sudah besar masih ngompol" menjadikan soal ngompol adalah dosa besar seiring bertambahnya usia.

Saya bukan sedang menyalahkan guru yang kencing berdiri di pekarangan sebab namanya juga hasrat tak mungkin harus ditahan mati-matian harus kencing di toilet dan kebiasaan menahan kencing sama buruknya dengan kencing sembarangan, terlebih "kencingnya" sopir tanki Pertamina bisa merugikan perusahaan dan juga negara. Tapi sebagian murid hobi kencing berlari, dalam tawuran biasanya yang kalah lari terkencing-kencing, terbirit-birit dan mungkin terberak-berak dan saya hanya sedang ingin membayangkan apa yang dilakukan guru jika muridnya saja sampai melahirkan di toilet sekolahan? Mungkinkah gurunya ngompol? Atau malah berak di celana? Bangsa kita memang aneh, soal air kencing dan bau pesing saja kita harus didikte, tidak percaya? Masuklah ke toilet umum dari tempat yang paling kumuh sampai tempat yang paling mentereng di dalam toilet umumnya ada entah semacam pemberitahuan atau himbauan berbunyi "habis kencing harap disiram!!" yang lebih ekstrim "dilarang kencing di sini kecuali anjing!!" seolah-olah kita memang susah diatur dan tak punya kesadaran sendiri untuk tidak kencing sembarangan dan membersihkan air kencing sendiri dan silakan bayangkan sendiri pada hal-hal lain yang lebih besar jika masalah sehari-hari sekecil soal kencing saja kita masih sembarangan dan tak bertanggung jawab.

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita soal Angelina Sondakh yang tengah berbadan dua, benar atau tidak kabar tersebut tak begitu penting saya lebih suka berandai-andai jika kabar tersebut benar apakah ini termasuk salah satu cara untuk meloloskan diri? Dan siapa pemilik "Air kencing" yang di rahim Angie? Selain dialami si ratu korup kasus berbadan dua dalam penjara juga pernah dialami ratu ekstasi aktris Zarima, sementara baru-baru ini di Aceh ada polisi syariat yang "mengencingi" tahananya, di Depok ada siswi yang ditolak pihak sekolah akibat "dikencingi" teman dunia mayanya, dan yang paling membuat panas telinga pak menteri justru ikut menuduh itu "kencing suka sama suka". Mengapa kita tak pernah lepas dari masalah selangkangan dan kencing sembarangan? Apa karena kita juga keluar tak jauh dari lubang perkencingan? Dan seperti ompol teman saya yang menjadi dosa besar seiring usianya yang bertambah besar, tubuh yang makin besar dan rasa malu yang ikut membesar sebaiknya bangsa kita belajar bagaimana mengatasi masalah "ngompol" sebab bau ompol tak hanya tercium di kasur Senayan, di kamar Jakarta di rumah Indonesia dan di ruang yang lebih besar yaitu Dunia. Setidaknya kita sadar "ompol" orang dewasa lebih sulit dibersihkan dibanding ompol balita.
--------------------------------
Galuh Timur



--Djenar Abunetti--
sitidjenar@gmail.com
Sent from my Nokia