Otak Sampah

Tumben, sepanjang siang tadi dalam batok kepalaku tidak ada yang berhamburan dan berterbangan tak beraturan seperti sampah plastik dan debu tertiup angin di jalanan seperti kemarin. Biasanya sampah-sampah di kepalaku semakin menumpuk jika sehari saja tak dibersihkan dan sesekali angin menerbangkan aroma busuknya mendatangkan lalat, tikus, kucing kadang-kadang anjing juga tak mau ketinggalan mengendus-endus dan menjilati beberapa bagian sampah dan sampah-sampah di kepalaku semakin berantakan. Sampah-sampah di kepalaku biasanya menimbulkan bad mood berkepanjangan apalagi jika tak segera dikumpulkan, dipilah, didaur ulang atau dibakar sekalian untuk mengotori udara di langit jagat kabel agar penghuni jagat kabel yang biasa disebut dunia maya segera 'cari selamat' dengan menggerakan mousenya dan menekan tanda silang merah di sudut kanan atas 'close' atau segera menggerakan kursornya pada mesin pencari dan mengetikan kata Wikipedia misalnya atau boleh juga yang lain, di keranjang bernama wikipedia tersebut jauh lebih banyak sampah yang bermanfaat ketimbang kau mengetikan kata Faceporn yang akan membuat jantung berdetak lebih cepat dan menyebabkan wajahmu bersemu merah juga bagian yang lain, tentunya jika kau memang punya bagian tersebut.

Sampah di kepalaku dari hari ke hari semakin sedikit, sepertinya aku perlu membuat slogan 'tak ada otak yang tak nyampah' agar otaku semakin rajin dan bersemangat dalam memproduksi beraneka sampah agar mampu bersaing dengan DKI Jakarta yang mampu memproduksi 6500 ton perhari atau setara dengan 27 ribu meter kubik perhari dan diperkirakan akan terus mengalami kenaikan sekitar 5 persen pertahun. Bisa dibayangkan jika kepalaku mampu 'menggunungkan' sampah-sampah tersebut di sini. Dan aku sangat menginginkanya sayangnya otaku mulai membusuk.


Talaga Bestari.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments: