Aku mengenalnya sejak ia masih duduk di bangku SMP, dulu hampir setiap hari aku mengunjunginya dan jam belajarnya makin berkurang seiring kepindahanya ke bangku SMA tentu karena Ia makin menarik, berkulit bersih, rambut lurus tanpa rebonding dan mata bening kebiruan tanpa softlens, bibir merah sensual bukan sentuhan pabrik dan body proporsional tanpa senam aerobik wajarlah jika banyak pemuda yang mengejarnya termasuk teman-temanku. Waktu terus berjalan aku lebih banyak di Jakarta dan rutinitas membuatku lupa tentangnya ia mungkin sudah beberapa kali berpacaran demikian juga denganku, malah aku sempat menikah dan bercerai. Kini ia sudah bekerja, di usianya yang ke dua puluh lima ia terlihat lebih matang, ia memang bukan tipe genit meski masih punya selera humor bukan juga tipe dynamite bersumbu pendek yang bisa meledak kapan saja jadi ia tetap nyaman di ajak bicara tentang apa saja. Ia tak suka mainan facebook dan semacamnya apalagi narsis di depan kamera meski tak berarti gaptek, buktinya gadget yang ia genggam lebih up to date dari miliku. Lembut sapaanya tadi pagi masih terngiang di gendang telingaku 'minggu jadi datangkan?'
Ah..ia membuatku tak sabar untuk kembali memainkan kuku dan jemarinya. Dan minggu begitu lama.
Talaga Bestari
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone