Berduyun-duyun anak-anak galuh timur mengaji usai sholat maghrib di rumah sang guru diterangi lampu teplok dan orang tua mereka di rumah berdoa dengan khusyu agar terang listrik segera turun dari langit dan sebuah partai politik mengabulkanya.
Kini sekali
Lampu teplok sudah mati dan anak-anak beralih mengaji pada televisi, sendiri-sendiri tak sempat sholat maghrib.
Dulu sekali
Jauh sekali
Hidup sekali.
Di rumah, Galuh Timur.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments:
Posting Komentar