Barisan gigi geligi itu terus menggigit dan mengoyak kelopak mata menguliti kantuk dan memisahkanya dari sunyi malam melemparkanya jauh ke alam yang penuh warna.
Berikan obat tidurku.
Dan sungging malu-malu itu mencekat tenggorokan, berkali-kali helaan nafas tertahan seakan tak lagi ada ruang di dada hanya untuk sebuah gelembung udara. Kau memenuhiku, menyesakanku. Jangan biarkan asmaku kambuh.
Biarkan saja asmara tumbuh.
To: Muty
Talaga Bestari
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments:
Posting Komentar