Tangisan Gigolo

Aku tahu, seandainya waktu berputar mundur dan aku bertemu denganmu itu takan mengubah apapun karena memang kita menghendakinya begini dan kurasa kaupun mengingatnya. Dan aku takan pernah lagi menjadi pria yang baik karena aku merasa memang begitulah takdirku, yang pasti aku hanya akan memberikan nafsu belaka bukan cinta sebab cinta sudah pergi jauh menyisakan luka yang teramat dalam hingga aku hanya berhasrat terhadap tubuh-tubuh bukan pada pemilik tubuh, dunia memang kejam dan aku menjadi bagian dari serangkaian kekejaman itu sendiri, mungkin saja dengan begini aku akan mengerti apa itu cinta, kasih sayang, luka dan apa itu kekejaman. Aku telah lelah pada hati hati wanita namun aku takan lelah memuja tubuhnya, aku akan menjadi binatang terkejam yang pernah dikenalnya aku akan menjadi iblis dalam hidupnya, iblis dari segala dongeng yang paling purba sebelum dunia ini tercipta. Kau tahu aku harus berbangga sebab biar bagaimanapun aku tetap memilih dari sekian pilihan. Terluka dan merana atas takdirku sendiri sebab memang itulah takdir yang kupilih.
Kubiarkan saja catatan-catatan berserak di ruang sepi, biar menjadi selimut di kuburku.
Aku lelah menghentikan darah yang mengalir di sekujur jiwa ini, aku lelah menangis, berlari, jatuh dan terjatuh dan akan terus berlari walau kutahu semakin cepat aku berlari semakin deras darah ini mengalir.
Aku menertawakan para pecinta dan bertanya apa cinta itu ada? Dan aku mati kemudian, cinta menikamku tanpa belas kasih tanpa ampun tanpa rasa bersalah. Aku menghampiri para pecinta dan bertanya adakah cinta? aku menunjukan luka yang kuderita, cabikan, tusukan dan segala bentuk penganiayaan dan bertanya kembali masih adakah cinta yang layak dipuja? Aku kembali berlalu dari tubuh-tubuh berlari kembali secepat malam menyusuri lorong kesunyian, kesepian tempat segala kengerian.
*catatan seorang gigolo

Di rumah, Galuh Timur.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone