Neneku Muntah

Neneku memuntahkan sejarah ketika sekembalinya melintasi waktu, memuntahkanya dengan bibir membiru dan aku menelan muntahanya dengan tersenyum gembira. Neneku memuntahkan segalanya tentang di mana penculikan dan pembantaian serta pembakaran tak lagi disebut tragedi, menggali kubur ingatan tentang para pemberontak membawa ternak. Sesekali ia mengacungkan jari telunjuknya pada tahun-tahun di mana segala kepahitan hidup menjadi satu wadah. Dan aku menelan muntahan nenek untuk kumuntahkan kembali di hadapanmu, berharap kau tersenyum gembira seperti halnya mereka bergembira dengan menjilat muntahan di parlemen.

Neneku kembali melintasi waktu sebelum bibirku benar-benar membiru.


Di rumah, Galuh Timur.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments: