Malam Yang Seksi

Menyusuri komplek pertokoan pada satu malam menyaksikan riuh anak-anak berselempang sarung menggigit magnum dan ayah-ayah yang sibuk melayani pembeli
hampar tikar, tenda-tenda, terang neon dan denting gelas di sela deru mesin
Ooo.. malam yang seksi.

Bulan sabit mengintip dan menguping teriakan instruktur senam, Ooo... malam yang sungguh seksi.
Hee..tunggu instruktrur satu botol lagi aku akan jadi milikmu dan kita pergi dari teras mini market.

Dan sepertinya aku melupakan pesan ibu tempo hari untuk membeli batu batere jam dinding yang detaknya mulai melambat, agar kau tahu waktu dan bangun lebih cepat anaku, kata ibu.

besoknya lagi aku terbangun dari tidur dan menyusuri komplek pertokoan yang sama, hadir bersama hantu-hantu yang lahir dari keserakahan kota menjadi kengerian ataupun keindahan luar biasa yang tak terlupakan. Sesekali sayup sirine meraung di kejauhan entah apa yang diburu sementara sekawanan pencuri asik melenggang dengan Mercy, sesekali meludah kelangit, santai sekali sepulangnya dari mencuri di depan hidung polisi. Malam menyibakan borok-borok kota yang pada siangnya berkilau laksana butirbutir kaca.

Lolong anjing, decit ban gerobak yang terseok-seok, genangan sisa hujan dan tawa orang mabuk membuat malam ini menjadi tak seperti tempat pemakaman akan tetapi lebih mirip tempat pembantaian, mana yang lebih mengerikan menurutmu?. Memang, kota membantai dan memakamkan siapa saja yang ada di dalamnya juga di sekitarnya, kota tak kenal belas kasihan, lihat di sana beberapa orang tertidur di emperan tanpa bed cover ataupun lotion anti nyamuk, karena memang bed cover dan lotion anti nyamuk diklankan oleh orangorang berkulit sempurna dan hanya diciptakan untuk orang-orang manja yang takut membeku ataupun malah meleleh, bukan untuk penarik gerobak berkulit gelap yang terbantai dan termakamkan dengan cara berbeda seperti halnya aku.




Talaga Bestari, Balaraja.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone

0 comments: