Mungkin Nanti

Kemarin:
Terlalu singkat untuk sebuah kopi darat, mengapa juga harus di kantor samsat?
Kau bilang dunia belum kiamat.
Ah kita memang laknat.

Pagi ini:
Kopi, harian pagi menemaninya bermain api sebelum ia beranjak mandi
usai antar anak sekolah pagi tadi, usai tolak hasrat suami.

Malam ini:
Sebelum harap kekasih gelap kian mengatap padamkan api itu api yang kan membuatmu meratap suatu saat ketika khilaf tersadap.

Mungkin nanti:
Diam-diam aku merindumu
Diam-diam aku menyesali mengapa terlalu singkat mendekapmu erat.

*catatan seorang gigolo.
Di rumah, Galuh timur.
--Djenar Abunetti--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone