Entahlah, aku tak tahu apa itu puisi, sajak, esai atau prosa, hanya saja ketika mereka bercerita di beranda tentang pelangi mengingatkanku pada keponakanku yang baru 2 tahun belajar ngomong 'n suka banget muter vcd jadul di pojok ruangan, lagu 'pelangi2 alangkah indahmu merah kuning hijau di langit yg biru pelukismu agung siapa gerangan pelangi2 ciptaan tuhan' mengantarnya pada tawa dan sebentar saja tangis pun memenuhi ruangan yg sama karena sang keponakan 'pengagum pelangi' itu terjatuh waktu bergoyang sama teman2nya. Ah pelangi itu, engkau menjatuhkanya. Dan ketika mereka bercerita di beranda yang sama pada jam dan hari yang berbeda tentang indahnya mawar, harumnya melati mengingatkanku juga pada keponakanku yang suka juga menyanyikan lagu 'lihat kebunku penuh dengan bunga ada yang merah dan ada yang putih..bla bla bla 'n bla'...kembali kponakanku tertawa bersama dan nangis bersama. Aah mawar itu membuatnya menangis.
Lalu, sejumput tanya hadir tanpa terpikir apakah mereka juga yang hobi berkelakar di berandaku, berkelakar tentang pelangi, mawar dan juga melati tertawa dan menangis bersama meski 'terjatuh dan terjatuh lg'?
Kumatikan vcd dengan alasan hemat energi.
Ternyata tangis keponakanku terhenti di kue serabi.
--Galtim